Jadi Mau Nulis Yang Gimana?

Sebenernya kepikiran kepengen nulis dengan bahasa yang santai banget disini. Tapi agak gimana gitu. Akunya lebih takut tentang anggapan orang lain tentang bahasa yang kupakai. Apakah menulis dengan bahasa santai begini sopan? Dengan baca beberapa blogger favorit akhirnya aku mengumpulkan keberanian untuk menulis dengan style yang completely different. Hehe.

Semoga keberanian yang kukumpulkan untuk berbahasa santai disini bisa lebih jelas menceritakan banyak hal. See you dipostingan berikutnya! Sedang dalam proses editing!

Berbahagia.

Apakah dunia akhir-akhir ini memang sedang sibuk, atau beginilah dia dari dulu tapi saya yang baru menyadari kesibukannya? Rasanya kok banyak berita yang harus diikuti. Tapi saya sedang terlalu sibuk untuk mengusahakan kehidupan diri sendiri, sedang sibuk mengkhawatirkan hidup, sedang mengusahakan untuk bahagia seperti apa yang saya harapkan, sehingga tidak terlalu banyak tahu tentang berita-berita kesibukan dunia. Atau mungkin karena saya adalah bagian dari dunia ini? Saya sibuk, oleh karenanya dunia juga ikut sibuk? Idk.

Beberapa tahun terakhir sejak saya memasuki dan melewati angka 25 ada banyak kekhawatiran yang harus dipikirkan. Kalau tidak mengkhawatirkan hal-hal ini, sepertinya tidak ada greget menjadi dewasa. Dewasa seperti orang lain.

Saat saya merasa perlu mengkhawatirkan hal yang menurut orang lain itu perlu dipikirkan, saya tidak lagi bisa merasakan bahagia dari hal kecil, yang mungkin menurut orang lain tidak penting, tetapi itu membuat saya bahagia. Saat-saat itulah yang membuat saya malah semakin jatuh dalam rasa khawatir. Sekalipun disaat yang sama saya meyakini ‘kalo besok matahari masih terbit artinya masih ada harapan’ tetapi pada kenyataannya ketika keesokan harinya matahari benar-benar masih terbit, saya tetap masih hidup dalam kekhawatiran, yang sama maupun yang baru. Tidak ada yang salah dengan khawatir, saya percaya tidak ada orang didunia ini yang hidup tanpa rasa khawatir, sekecil apapun rasa khawatir itu. Namun belajar untuk sedikit melepas kekhawatiran dan memberi ruang untuk berbahagia tanpa rasa khawatir juga hal yang sulit untuk dipahami dan dilakukan.

Sesuatu yang saya khawatirkan sebenarnya bukanlah sesuatu yang menjadi prioritas dalam hidup saya, pada awalnya. Tetapi menjadi saya pikirkan terus menerus karena melihat dan mendengar orang lain. Ada standard yang ditentukan oleh lingkungan tentang mengkhawatirkan sesuatu. Yang sepertinya (dan pada akhirnya) harus saya ikuti. Saya merasa diharuskan untuk khawatir tentang ABC dst. Karena jika tidak memikirkan tentang hal itu artinya (menurut standard) saya tidak normal.

(sedikit) Banyak saya rasakan bola besar malah menggelinding balik ke diri sendiri. Saya tidak menyalahkan apa yang sudah terbentuk dilingkungan perihal mengkhawatirkan sesuatu. Ya mau bagaimana lagi, itu sudah menjadi warisan turun temurun yang kemudian banyak orang menjadikannya sebagai sebuah standard. Dan tidak salah juga jika ikut memikirkan hal itu. Tetapi bagi saya, ikut mengkhawatirkan apa yang menurut orang lain seharusnya dikhawatirkan, mengurangi kuota untuk saya berbahagia seperti sebelumnya.

Saya pernah merasakan bahagia yang tidak perlu disambung dengan kata karena. Entah kapan tepatnya saya lupa, tetapi hari itu saya masih tetap hidup dalam kekhawatiran (hari ini pun masih begitu). Khawatir tentang sesuatu, khawatir tentang banyak hal. Hari itu tidak ada kabar baik apapun. Tidak ada kabar bahwa saya diterima kerja, tidak juga karena tiba-tiba ada transferan masuk ke rekening, tidak juga karena saya bisa menyelesaikan seluruh episode Bon Voyage season 4. Sungguh tidak ada apa-apa. Saya hanya duduk dimatras yoga, disebelah tempat tidur ukuran single, menonton youtube dan minum air putih. Apa yang saya tonton diyoutube juga tidak sebegitu menariknya. Hanya episode Chibi Maruko Chan yang diulang. Tidak ada sesuatu yang menarik sama sekali kan? Tetapi saat itu, detik itu, saya merasa senang dan gembira, tidak tahu karena apa. Bisa dianggap sedikit (atau mungkin banyak?) tidak masuk akal, bisa juga dianggap ‘halah koyo opo ae’. Namun itu adalah kali pertama saya merasakan hal yang demikian.

Saya juga pernah merasakan bahagia, senyam senyum sendiri dengan setengah muka bermasker didalam helm, hanya dengan tidak perlu nge-rem diperempatan karena datang tepat disaat lampu berubah hijau. Dengan bahasa non-formal, sereceh itu bahagiaku. Saya pikir ungkapan ini sangat sangat sangat benar. Apakah dengan hal receh lalu jika kita bisa merasa bahagia artinya bahagianya kita kurang berkelas?

Kita dipersilahkan untuk berbahagia sekalipun tanpa ada kata karena yang mengikuti, kita juga bisa bahagia dengan kata karena, kita diizinkan untuk bahagia dengan hal yang receh, kita juga boleh berbahagia dengan sesuatu yang wah dan besar. Tidak ada rangkaian kata yang bisa dibilang ‘ini benar!’ untuk mendefinisikan bahagia.

Namun bagi saya, ada yang perlu saya renungi dan benahi jika saya hanya bisa merasakan bahagia dengan sesuatu yang wah dan besar saja.

Selamat berbahagia!

Starting An Unexpected Twist

Siapa yang menyangka ternyata plot twistnya terjadi sekarang? Siapa yang menyangka ternyata plot twistnya tidak berbeda? Bagaimana menceritakan plot twist yang berbeda ini tapi sebenarnya sama dengan sebelumnya?

Pagi ini adalah jam-jam terakhir sebelum transisi yang sebenarnya terjadi kembali bagi saya. Dengan berat hati, dengan harapan baru, dengan motivasi baru, dengan semua sudut pandang yang (seharusnya) baru, saya memasuki bab yang ke.. rasanya bab ke-2 tapi bisa juga dikatakan bab ke-3. Bab berapapun itu pada intinya saya memasuki bab yang baru. Bukan kemudian sepenuhnya berbeda sama sekali dengan bab sebelumnya, malahan bisa dikatakan kembali kurang lebih seperti sebelumnya hanya berbeda jenisnya saja. Kembali ke rutinitas yang bisa dikatakan menegangkan? menyenangkan? melelahkan? yang tidak sesuai dengan harapan? Hahaha.. Tetapi sayagnya tidak bisa untuk ditolak begitu saja.

Kemungkinan untuk plot twist ini datang kepada saya bisa saya rasakan, tetapi tidak saya harapkan. Sama sekali tidak berharap untuk plot twist ini datang menyapa saya. Jujur saya merasa kecil diri ketika plot twist ini akhirnya memilih saya untuk menumpangi keretanya. Kecil diri bukan dalam artian tidak layak, tetapi kecil diri karena merasa ‘direndahkan’. Pasti tidak semua orang setuju dengan ini, namun dari sudut pandang pribadi, saya merasa seperti itu.

Maaf untuk kesempatan yang diberikan oleh plot twist ini. Saya akan memulainya dengan motivasi yang -jika saya ceritakan- akan disebut sebagai motivasi yang sangat salah untuk memulai bab baru. Namun siapa yang bisa memaksakan? Haruskah dipaksakan? Saya sendiri merasa tidak tahu harus berpegang pada dasar yang mana. Satu-satunya alasan yang membuat saya menaiki kereta plot twist ini adalah ‘ya mau nggak mau’. Karena tidak ada kereta lain, karena tidak bisa menunggu lebih lama dengan keadaan yang terjadi.

Mungkin saya tidak akan turun ditujuan akhir dengan kereta yang baru saya tumpangi ini. Pemberhentian kedua atau yang ketiga, sesegera mungkin saya akan dengan cepat turun untuk mencari kereta lainnya. Berpindah, untuk meneruskan perjalanan sampai tujuan akhir dengan lebih nyaman. Walaupun, saya tahu harga nyaman untuk meneruskan perjalanannya harus dimulai dengan menaiki gerbong kelas ekonomi.

Saya Belajar Hal Baru: Sustainability

Beberapa waktu lalu ketika saya kembali aktif di instagram (setelah dua kali kehilangan akun), saya bertemu dengan salah seorang public figure yang cukup banyak difollow oleh netizen di instagram. Karena direkomendasikan oleh instagram untuk difollow, saya kemudian melihat beberapa postingannya. Yang menarik adalah, dia menuliskan “style and sustainablity” dibagian profilnya. Tidak dipungkiri fashion dan stylenya sangat modis. Namun yang membuat saya memutuskan untuk mengikuti akun ini adalah apa yang dia bagikan difeednya. Saya cukup mengerti bahwa dia adalah public figure didunia fashion yang dapat memanfaatkan posisinya. Sustainable fashion, adalah hal yang selalu disampaikan disetiap postingan baik tersirat maupun secara langsung. Dan oleh karenanya saya mencoba belajar tentang sustainability.

Sesuatu yang sudah lama digembar-gemborkan. Tetapi sangat baru bagi saya, karena belum pernah mempelajarinya dengan mendalam. Bahkan ketika menulis ini pun belum dapat dikatakan saya mempelajari tentang sustainablity sampai ke detailnya. Saya hanya membaca beberapa artikel dan menonton beberapa video tentang hal ini. Namun yang memberanikan saya untuk menulis (sekalipun saya bukan penulis yang pro), adalah karena saya merasa menjadi bagian didalamnya.

Sustainability jika diterjemahkan dengan Google translate dan secara harafiah berarti keberlanjutan. Dengan menarik sedikit lebih dalam, makna sustainablity ini dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mempertahankan pada tingkat tertentu. Sebelum saya membaca artikel tentang sustainability (keberlanjutan) yang terbayang hanyalah tentang kerusakan alam dan manusia. Tentu akan seperti itu yang dibayangkan jika belum menelisik secara mendalam. Kata keberlanjutan pasti akan erat hubungannya dengan lingkungan kemudian diikuti dengan polusi, perubahan iklim dst. Bukanlah sesuatu yang salah menggambarkan kata keberlanjutan dengan hal-hal tadi, karena hal tersebut memang termasuk dalam bagian keberlanjutan. Yang mengagetkan setelah membaca beberapa artikel tentang keberlanjutan, banyak aspek yang menjadi bagian didalamnya dan hal itu tidak pernah terpikir oleh saya, dan bahwa sustainability ini adalah suatu kesatuan yang sangat kompleks.

Alam adalah tempat manusia bergantung. Sebelum masa modern dimulai, manusia telah mengetahui bahwa alam mempunyai keterbatasan (limitations). Revolusi Industri yang dimulai pada 1700-an, kemajuan teknologi dalam bidang industri yang langsung diterapkan begitu saja pada alam, dengan perlahan namun pasti menggantikan pekerjaan manusia dengan mesin. Kemudian aktifitas insdustrial ini menjadi penggerak utama dalam perubahan sistem yang mengakibatkan sedikit ataupun banyak merusak alam. Mungkin jika tidak ada intervensi manusia, alam akan mampu menyeimbangkan dirinya sendiri ketika terjadi kerusakan, tetapi kegiatan industri dan teknologi yang semakin berkembang membuat sedikit kesulitan untuk alam menyembuhkan dirinya sendiri.

Sedikit cerita yang saya tuliskan diatas mungkin akan membuat teman-teman yang membaca ini semakin berpikir, sustainability adalah tentang alam dan tentang efek berbanding terbaliknya dengan teknologi, selesai. Saya pastikan tidak. Keberlanjutan sendiri terdiri dari tiga pilar, yaitu; ekonomi, sosial dan lingkungan. Atau secara informal sering disebut profits, people, planets.

Yang pertama ekonomi, adalah tentang permintaan dan penawaran. Ketika sektor bisnis memproduksi lebih dan ketika permintaan menjadi tinggi juga. Dari sisi permintaan, saat terjadi excess demand ini akan mengakibatkan masyarakat cenderung menjadi masyarakat yang konsumtif. Lalu dari sisi produsen, kebutuhan untuk memproduksi agar sepadan dengan jumlah permintaan membutuhkan sumber daya yang lebih banyak juga, dan tidak bisa dihindari kebutuhan sumber daya alam juga ikut meningkat. Isu terpenting dari sisi ekonomi ini adalah, mengontrol apa yang kita konsumsi (bukan hanya sekedar pangan saja, sandang dan papan serta keuntungan).

Kedua sosial. Sebagian dari kita mungkin telah menyadari tentang pentingnya jaminan yang didapatkan sebagai seorang pekerja. Contohnya, pengalaman saya ketika bekerja dulu, fasilitas yang diberikan berupa dana pensiun dan juga asuransi kesehatan. Tetapi pada kenyataannya belum secara merata perusahaan atau pihak pemberi pekerjaan menjalankan kewajiban untuk memberikan jaminan kepada pekerjanya. Di negara-negara maju, hal ini menjadi sesuatu yang penting, untuk memastikan jaminan kesehatan dan kesejahteraan para pekerja (apapun pekerjaannya) akan kualitas hidup mereka.

Pilar terakhir lingkungan. Pilar terakhir ini butuh perhatian lebih. Berbicara tentang lingkungan tentu akan membawa topik tentang masalah masa depan. Tentang ketersediaan sumber daya alam baik yang untuk dikonsumsi maupun yang tidak (sekalipun hampir semuanya berkaitan dengan yang dikonsumsi oleh manusia), tentang kelestarian flora dan fauna, tentang perubahan iklim dan seterusnya dan seterusnya. Inti yang membuat lingkungan menjadi salah satu bagian dari keberlanjutan adalah untuk melindunginya. Baik dengan cara mengurangi, penggunaan kembali serta pendauran ulang.

Keberlanjutan dengan segala cerita, sejarah dan banyak sudut pandang, membuatnya seakan-akan semakin sukar untuk diwujudkan. Kalimat ini adalah yang tersirat dalam benak saya. Dari sudut pandang saya secara pribadi ada dua kata yang dapat mencerminkan keberlanjutan, yaitu control dan balance. Bukan dalam artian, jika dalam keadaan yang terkontrol dan seimbang baru dapat dikatakan itu adalah keberlanjutan atau “nah itu baru namanya sustainability“, tidak. Pun upaya untuk menjaga keseimbangan, upaya untuk mengontrol dapat saya katakan sebagai keberlanjutan. Jika keadaan sudah dalam keadaan yang seimbang dan terkontrol, tentu damai sejahtera sudah turun dari sorga ke bumi ini. Saya merasa keberlanjutan yang sempurna itu tidak mungkin terjadi. Karena pasti akan ada kebocoran kecil atau kecolongan diaspek tertentu ketika kita mencoba untuk mengusahakan keberlanjutan itu. Mengupayakan dan mengusahakan harus tetap dilakukan. Bagaimana tidak, jika mengupayakan menuju keberlanjutan saja masih banyak ketidakseimbangan yang terjadi, apalagi tidak mengupayakannya sama sekali.

Ada banyak aspek dalam keberlanjutan yang sudah, sedang dan mulai diusahakan. Bagian inilah yang saya katakan diparagraf ke-3 dengan menyebutnya kompleks. Bilamana kita mengusahakan satu aspek tanpa mengelola keseluruhannya, sama artinya dengan kita mengurangi kesatuan yang menunjang keutuhan dikeberlanjutan dan akan berakhir dengan ketidakseimbangan. Sebagai contoh misalnya; ada perumahan yang dibangun bagus dengan menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan, sumber listriknya menggunakan panel surya namun akses untuk pergi ke sekolah, ke wilayah perkantoran sangat jauh sehingga membutuhkan waktu dan bahan bakar yang lebih. Artinya sumbangan polusi dari kendaraan bertambah. Disinilah yang pada akhirnya terjadi ketidakseimbangan, padahal kita sedang mengusahakan keberlanjutan diaspek lain.

Contoh lain misalnya, pakaian. Karena saya perempuan masalah ini sering terjadi pada saya (juga saya yakin terjadi pada teman-teman perempuan lainnya). Sering ketika mendapatkan undangan pernikahan teman, saya sibuk menyiapkan apa yang harus saya pakai ke kondangan nanti. Yang kemudian mengarahkan saya untuk mencari baju baru, merasa ‘aduh nggak punya baju yang pantes’. Padahal dilemari masih ada cukup pakaian yang layak untuk dipakai ke kondangan. Demikian juga ketika merencanakan untuk pergi liburan, ‘nanti kalau sampai pakai baju ini, karena besok pergi ke tempat ini kostumnya pakai yang ini‘ dan begitu seterusnya. Pakaian yang tadi kita beli akan menumpuk dilemari pada akhirnya. Entah kapan akan bisa dipakai lagi. Dan jika pola tadi berulang, membuat kita menjadi masyarakat yang konsumtif (saya sedang menguranginya dengan berpuasa membeli pakaian dari awal tahun ini). Dan jika boleh beropini lebih dalam menyoroti dari pilar sosialnya, kita pasti tidak pernah (karena saya pun begitu, tetapi mungkin sebagian yang ada) memikirkan apakah para pekerja pembuat pakaian mendapatkan upah dan jaminan yang layak dari toko tempat kita membeli pakaian tadi.

Yang ingin saya sampaikan tentang sustainability menurut pendapat saya adalah; merasa cukup. Memang standar kecukupan bagi saya dan anda serta orang lain pasti berbeda. Tetapi yang saya maksudkan disini adalah merasa cukup dengan apa yang kita punyai, bukan merasa cukup kalau aku bisa beli ini beli itu. Saya teringat dengan kata-kata yang disampaikan dosen saya ketika kuliah dahulu, “keinginan dan kebutuhan itu berbeda”. Sepertinya kata-kata tersebut bisa saya kaitkan ini dengan konsep merasa cukup tadi.

Mungkin terkadang kita merasa ikut memikirkan bahasan seperti ini bukanlah porsi pembicaraan yang tepat untuk dibahas. “Untuk apa? Aduh, jangan sok-sokan!” Tetapi yang perlu kita sadari, sok-sokan ataupun tidak sok-sokan, peduli ataupun tidak peduli, saya, anda, kita semua berada disuatu kesatuan yang kompleks ini. Memberi pengaruh dan berperan didalamnya, sebagai protagonis dan antagonis.

thanks to; chloehelenmiles, enviromentalscience, Systems Innovation, yourmatter.world

Idk

I wonder if Venus or Mars has citizen. If that so, do they have an advance intellection about their social life? About their color maybe, do they know about racism? Even though I don’t know if the citizen of Venus or Mars has different color.

If they are homogen citizen, I wish I could go to there. And back to the earth alive, to proof that the only one who knows about racism is human being on earth.

Tue, June 9, 3:34 PM

Color correction

Ungu, biru, hijau, kuning, oranye dan merah, adalah spektrum cahaya tampak dari uraian seberkas cahaya putih. Urutan tadi adalah spektrum cahaya tampak dari frekuensi tinggi hingga frekuensi rendah. Pelangi, mejikuhibiniu saya mengenal sebutannya. Frekuensi tertinggi yang dapat dilihat oleh retina mata manusia hanya sampai dibatas warna ungu saja. Retina mata manusia tidak akan bisa melihat cahaya tampak jika rentang frekuensinya semakin tinggi.

Dari mejikuhibiniu, diantaranya ada yang bukan favorit jika berdiri sendiri. Saya, tidak memfavoritkan kuning. Katakanlah saya rasis terhadap warna kuning. Anda tidak menyukai ungu mungkin, atau biru.
Tapi tidak seorangpun menyangkal kalau pelangi itu indah.
Pelangi tidak akan disebut pelangi tanpa kuning. Pun jika tanpa ungu atau biru.

Adakah warna yang dinilai lebih baik dibandingkan warna lainnya dalam pelangi? Jika ada, itu adalah penilaian kita manusia yang melihatnya (macam saya tadi yang tidak memfavoritkan kuning). Tetapi saya akan sangat kecewa jika suatu saat menjadi kenyataan ternyata pelangi muncul tanpa warna kuning hanya karena saya tidak menyukai warna itu. Hilang harmoni keindahannya.

Bukan warna kuning yang harus disesuaikan untuk memuaskan penglihatan saya. Tetapi saya yang harus dikoreksi, karena dengan rentang frekuensi yang cukup dapat diterima oleh retina mata, warna kuning hilang keindahannya dari pandangan saya.

Saya berpendapat, begitu juga dengan manusia. Adakah karena warna kemudian menjadi merasa lebih? Atau merasa kurang? Saya harap jangan.
Jika iya, artinya anda sedang sakit mata. Seperti saya, yang butuh dikoreksi untuk melihat sisi lain keindahan suatu warna.

Fri, May 29, 11:00 pm.

6:59 pm

For what it’s worth.. it’s never too late, or in my case too early, to be whoever you want to be. There’s no time limit. Start whenever you want.

You can change or stay the same. There are no rule to this thing. We can make the best or worst of it. I hope you make the best of it.

I hope you see things that startle you. I hope you feel things you never felt before. I hope you meet people who have a different point of view.

I hope you live a life you proud of, and if you are not, I hope you have the courage to start over again.

Eric Roth

Bagaimana kamu?

Menahan, mengerem. Mengeluarkan, membebaskan. Semuanya itu tentang mengekspresikan.

Banyak persimpangan sedang berlampu merah ataupun hijau didalam sini. Jalan dulu, jangan! Berhenti dulu! Perintah dari yang secara biologi ada didekat perut namun sering sesaknya di dada. Apapun warnanya selalu ada puncak gejolak. Berefek diam, berefek menangis, berefek tersenyum, tapi itu cuma cahaya tampak. Ultraviolet dan inframerah siapa yang tahu? Yang didalam sendiri pun sering mengingkari untuk tidak sependapat.

Saya sedang mengeluarkan, sedang membebaskan sebagian disini. Agar tidak terlalu berat, tidak terlalu membebani. Tapi tidak semua. Saya juga sedang menahan, sedang mengerem.

Artinya saya juga sedang berekspresi sekarang.

Thu, May 28, 1:08 pm.

Aging

Changing is a complement thing when people are getting older. Some says there’s a problem, whether you are getting older and change to be a good one, or bad one.

It doesn’t make sense.

If I’m getting older and always tend to change to be a good one everytime after my birthday, then I could be literally an angel in a certain time.

A creature called human has both, the good and the bad. Good and bad, both will attach to me. Forever. In any number of my age.

Sunday, May 24, 12:54 pm